OpenAI Akhirnya Tutup Sora

OpenAI secara resmi mengumumkan penghentian layanan Sora, aplikasi pembuat video berbasis kecerdasan buatan yang sempat viral di seluruh dunia. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak mengingat Sora sempat menjadi salah satu produk AI paling dinanti dan paling banyak dibicarakan di media sosial.

Sora pertama kali diperkenalkan oleh OpenAI sebagai model AI yang mampu menghasilkan video realistis dari teks (text-to-video). Kemampuannya mengubah kalimat sederhana menjadi video berkualitas tinggi sempat bikin geger karena hasilnya terlihat sangat natural dan sinematik.

Mengapa OpenAI Memutuskan untuk Menutup Sora?

Beberapa alasan yang diyakini menjadi latar belakang keputusan ini:

  • Biaya operasional tinggi — Menghasilkan video AI membutuhkan komputasi GPU yang jauh lebih besar dibanding teks atau gambar. Setiap video pendek memakan biaya server puluhan ribu dolar.
  • Monetisasi sulit — Harga langganan yang ditawarkan ($20/bulan untuk tier terbatas) tidak cukup menutup biaya infrastruktur. Banyak pengguna yang tidak mau membayar mahal untuk satu video pendek.
  • Isu hak cipta — Berbagai gugatan hukum dari sineas dan pemilik konten mempersoalkan penggunaan data pelatihan Sora yang dianggap mengambil karya tanpa izin.
  • Regulasi makin ketat — Uni Eropa dan beberapa negara Asia mulai memperketat aturan terkait konten AI-generated, khususnya yang bisa disalahgunakan untuk misinformasi.

Dampak untuk Kreator Konten

Penutupan Sora tentu mengecewakan banyak kreator konten yang sudah mulai mengandalkan video AI untuk konten mereka. Tapi bukan berarti jalan berakhir. Beberapa alternatif yang masih aktif:

  • Runway Gen-4 — Masih beroperasi dengan fitur serupa
  • Pika Labs — Video AI gratis dengan fitur dasar
  • Kling AI — Dari China, hasil video cukup realistis
  • Luma Dream Machine — Gratis untuk penggunaan terbatas

Apa Artinya untuk Masa Depan AI Video?

Keputusan OpenAI menutup Sora bisa jadi sinyal bahwa industri AI video belum siap untuk monetisasi massal. Biaya komputasi yang sangat tinggi membuat model bisnis langganan sulit bertahan. Tapi ini bukan akhir dari AI video — hanya OpenAI yang mundur dari arena ini. Kompetitor seperti Runway, Pika, dan berbagai startup AI video lainnya masih beroperasi dan terus mengembangkan teknologi mereka.

Yang pasti, era di mana siapa saja bisa membuat video profesional hanya dengan mengetik teks belum benar-benar tiba. Setidaknya belum untuk sekarang.

Sumber: Republika, CNN Indonesia, Bloomberg Technoz — 28 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *